Natural, Informative And Educative

Natural, Informative And Educative
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 75, SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA, MARHABAN YA MUHARRAM. SELAMAT MEMASUKI TAHUN BARU ISLAM 1442 H" Mohon maaf lahir batin

Jumat, 28 Oktober 2011

GENERATION I DON'T CARE

Share

     Hari ini tanggal 28 Oktober 2011 diperingati hari sumpah pemuda ke-83. Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober adalah momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah-tengah penjajahan. Sumpah Pemuda yang lahir dari Kongres Pemuda II, menjadi bagian dari proses konsolidasi kebangsaan menuju cita-cita Indonesia merdeka.
Sumpah Pemuda telah berhasil menyatukan langkah seluruh bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme ketika itu dan memberikan semangat dan motivasi baru bagi bangsa untuk memperjuangkan nasib dan eksistensi sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
Tak terasa tahun 2011 ini juga telah berlalu 13 tahun semenjak Pemuda/Mahasiswa turun ke jalan  bersama masyarakat menuntut perubahan terencana terhadap sistem sosial budaya dan politi. Titik sejarah ini penting, karena menyangkut niat dan kemauan untuk membawa bangsa ini mau ke jenis, lalu bentuk peradaban yang bagaimana? Berbicara tentang masa depan, karena kita tak bisa melepaskan diri dari wacana tentang generasi muda, yang selalu jadi bumper terakhir carut-marut zaman
Secara umum dapat dikatakan, generasi yang “berhasil” memotori tumbangnya era Soeharto, lahir sejak kurun waktu 1972-1979. pertimbangan utamanya adalah peraturan umum di seluruh Perguruan Tinggi, terutama negeri, periode masa studi bagi mahasiswa maksimal 7 tahun.
Jika diandaikan pada tahun 1998 mahasiswa paling yunior berumur 19 tahun, maka yang tertua berusia 19 ditambah 7 tahun sama dengan 26 tahun. Alhasil, usia tertua mahasiswa yang turun ke jalan dan meneriakkan kata-kata “turunkan Soeharto pada bulan-bulan sekitar Mei 1998 adalah lahir tahun 1972”.
Jika kita teliti, sebuah ulasan budaya yang dimuat di Koran Tempo pada tahun 2001 tentang fenomena lahirnya generasi baru dalam konteks kebudayaan dan sejarah konteporer. Mereka diklasifikasikan ke dalam beberapa indikator. Angkatan 1960-an diindikasikan dengan fenomena baby boomers, kala di berbagai penjuru dunia terjadi ledakan penduduk akibat euphoria sehabis perang dunia ke-II. Angkatan ini, yang lahir pada kurun 1960-1970, adalah bayi-bayi yang dilahirkan oleh “generasi bunga”. Generasi bunga adalah yang lahir pada kurun 1940-1950, yang mengalami secara langsung kekejaman perang dunia ke-II, namun belum memiliki kesadaran langsung akan sebuah krisis, sebab umur mereka yang masih terlalu kecil (masih balita atau sedikit di atas balita) untuk memahami situasi. Ketika mereka menginjak puberitas, memasuki usia produktif, perang dunia ke-II telah selesai dan diseluruh penjuru dunia mengalami pemulihan akibat kehancuran perang, industrialisasi meningkat pesat, pasar global mulai bergairah, maka secara kebudayaan massa generasi muda pada masa 1960-1970 itu mengalami wabah eskapisme dan katarsis besar-besaran terhadap kebudayaan populer. Maka, pada zaman inilah lahir dan tumbuh the Beatles, Deep Purple, Rolling Stones, dan kawan-kawan. Di negara kita lahir dan berkembang Koes Plus, Panbers, dan lainnya. Goyang Rock ‘n Roll jadi trade mark anak gaul di masa itu. Celana berlingkar besar pada ujung bawah jadi ciri-ciri dan identitas generasi muda. Generasi Baby Boomers ini dinamakan juga X-generation, generasi X. salah satu produk sukses dari generasi ini adalah Bill Gates, raja perangkat lunak komputer dunia.
Generasi X alias Baby-Boomers inilah yang melahirkan generasi 1970-1980-an. Secara agak terburu-buru generasi ini dilabeli generasi Y. ciri-ciri utama generasi ini adalah: mulai memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi, kritis dan kreatif, serta memiliki militansi yang tinggi. Identitas mereka ini dipengaruhi situasi dunia pada saat mereka mulai puberitas, yaitu kurun waktu 1980-1990-an, saat dimana dunia mulai mengalami krisis di sana-sini, mulai dari krisis ketersediaan bahan mineral, ekonomi, sampai moral. Di era ini wabah AIDS menjadi hantu paling menakutkan, perang di sana-sini dan pertentangan antara kubu barat (Amerika Serikat) dan timur (Uni Sovyet) mencapai puncaknya. Perlawanan tokoh-tokoh prodemokrasi diberbagai negara, dari Nelson Mandela sampai Lech Walesa, dari Che Guevara sampai Aung San Syu Kyi, juga turut mengilhami mereka. Ketakutan akan hancurnya bumi oleh manusia yang tidak becus mengurus bumi membuat generasi muda di mana-mana bangkit, seperti yang pernah terjadi di Amerika Selatan di awal abad 20 (1900-1930). Seperti efek domino, fenomena tersebut menjalar juga ke Indonesia. Dan 21 Mei 1998 itulah puncaknya, saat generasi Y tidak bisa lagi menahan amarah, segala yang dianggap menyimpang dari kehendak hati nurani zaman diterobos, rezim Soeharto tumbang (meski saat itu ternyata belum sepenunhnya tumbang akibat masih banyaknya Soeharto-Soeharto baru bertengger di posisi-posisi strategis bangsa).
Kini, generasi Y sudah mulai dewasa. Kebanyakan mereka sudah enak duduk di kursi empuk jabatan. Tak sedikit yang kini jadi anggota DPRD bahkan DPR. Ada yang menjadi bagian dari struktur pemerintah. Ada yang sengaja menjauh dari sistem atau membuat “sistem” sendiri lewat kewirausahaannya. Ada yang tidak memiliki gaung apa-apa lagi. Generasi telah berganti. Tahun 1998 saya dan teman-teman tidak satupun yang menenteng HP (Hand Phone) sibuk mengirim dan menerima SMS.
Jika ingin mengetik yang agak mewah, mesti pergi ke rental komputer dengan program WS atau Lotus. Kini zaman bergerak maju. Generasi Z, yang lahir pada kurun 1980-1990-an adalah generasi yang sangat melek teknologi. Di Jakarta generasi ABG (Anak Baru Gede), yang berusia 12-17 tahun (berarti masuk generasi Z juga) adalah generasi Sinetron dan internet yang menjadikan Sinetron dan internet sebagai nabi mereka sehari-hari. Jika pada sebuah sinetron diceritakan tentang kegilaan anak ABG pada situs jejaring sosial FB (Face Book), maka di kehidupan nyata kejadiannya juga begitu. Akibat perkembangan cepat teknologi  informasi dan komunikasi maka guru, nabi, dan orang tua generasi Z adalah media massa beserta segenap perangkatnya. Segala-galanya diukur dari sejauh mana ia mampu  memberikan hiburan dan ekstase yang memabukan. Anak-anak usia balita tak lagi suka mengerjakan PR, tapi main game online di warnet-warnet.
Efek negatif dari ini semua adalah bermetamorfosisnya generasi Z menjadi generasi I don’t Care. Maka lihatlah, anak-anak SMA dan Mahasiswa kini tak lagi peduli pada lingkungan sosialnya, cepat lupa pada harga BBM, koruptor yang semakin menggurita, kasus mafia hukum yang hanya di demonstrasi sebentar. Mereka sibuk dengan individu sendiri, individualisme jadi ritual sehari-hari. Apa yang diarahkan oleh media dalam wacana pemberitaan sehari-hari jadi kitab yang musti di pedomani. Maka jangan heran narkoba masih jadi santapan utama. Hukum tidak akan mampu memberantas jika “agama” hiburan tetap mengalahkan agama yang formal dan legal. Maka, jangan frustasi jika anak-anak yang diwajibkan ikut didikan subuh, tetap saja tak paham arti ayat-ayat Al Qur’an serta implementasi sehari-hari. Karena mereka tidak pernah dihadapkan pada contoh nyata suri tauladan yang baik. Kepada siapa mau meniru akhlak yang baik, jika pemimpin tetap korupsi? Siapa yang jadi panutan kalau Ustadz justru cabul pada jamaahnya kasus seperti ini banyak terjadi di beberap tempat.
Jika kita mau jujur, generasi I Don’t Care-lah (atau generasi cuek) generasi muda kita sekarang. Di sekolah dan kampus pergurun tinggi  sangat sulit untuk memancing siswa atau mahasiswa beropini terhadap suatu fenomena sosial. Ini masih taraf beropini, belum taraf  bagaimana mereka memformulasi solusi. Mereka tidak paham, bahwa kemampuan mengapresiasi dan bersikap terhadap segala ketimpangan adalah modal paling utama bagi calon intelektual. Jika sikap  kritis dikalangan  mahasiswa hilang, maka militansi mahasiswa juga tidak akan pernah eksis lagi. Maka, saya tidak akan kaget jika orde reformasi yang sekarang masih kita perjuangkan kemurniannya, suatu waktu kelak, tak akan lama dari kini, kan kehilangan rohnya. Jika para pimpinan suatu  sistem korup, berkolusi, dan bernepotisme, maka dijamin tidak ada yang peduli, I don’t care! Jika di jalan ada anak-anak jalanan, maka sebagai mahasiswa apalagi aktifis sulit untuk bisa dilihat responnya. Paling-paling akan berucap: “gue yang penting kuliah, dan cepat dapat kerja, gitu loh!”
(di tulis M. Isa Gautama, dlm surat kabar kampus Ganto th 2005)

PERNAH ROMANTIS…

Share

   Simaklah Kasih… Kutipan-kutipan kata hatiku, yang kutulis setiap rasa sepi dan rindu itu datang. Dan sekarang di hari jadimu kupersembahkan tuk dongeng sebelum tidur, diawal umurmu yang 20-an.

“Malam ini…. Aku sendiri, tanpa dirimu..memeluk aku. Kasih, kau dimana…, ku ingin bertemu, ungkapkan semua rasa rinduku. Haruskah aku berlari… mengejarmu ?”

Baru kini ku sadari, betapa ku butuh akan dirimu. Kesunyian seperti malam ini, seperti ku rindu bayangan dirimu.
       “ku coba memahami hasratku kini, …..    …..            ….. - .. merasakan manisnya cinta darimu. Basuhkan kasih sayang. Jiwa ragaku, ku pasrahkan semua.

       Hidup ini takkan indah tanpa kau ada di hati. Cinta ini takkan ada tanpa kau ada di sisi. Kekasihku, kau bunga mimpiku, tiada yang lain hanya dirimu. Kau ku sayang dan slalu ku kenang, kan slalu bersama dalam suka dan duka. Rasanya tak mungkin dikau kusakiti dan ku khianati, karena kamu terlalu baik bagiku.

            “ Hari kian bergulir. Makin dekat dirimu dihatiku. Meskipun tak terucapkan, ku merasakan dalamnya CINTAMOE. Jangan berhenti mencintaimu, meski mentari berhenti bersinar.
         
Jangan berubah sedikitpun. Di dalam cintamu .. ku temukan bahagia,. Jalan mungkin berliku, takkan lelah bila di sampingmu. Semakin ku mengenalmu jelas terlihat pintu masa depan. Semoga tiada berakhir, bersemi selamanya..”

            “ Segala rasa cintaku telah kuberi hingga terbelah. Hatiku ini hanya untukmu. Takkan ada yang lain, duhai kasih, kaulah satu. Janji kita slalu, tak mungkin bagi masa menghapus (bersama kan selalu merajut hari, engkau dan aku).”

Senin, 17 Oktober 2011

WAJAH SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Share

    Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.
(Berbagi dari:  http://www.pendidikankarakter.com)

Jumat, 23 September 2011

Rok Mini Versus Pakaian Syar'i

Share

Belakangan ini, masyarakat Jakarta dikejutkan maraknya kasus pemerkosaan terhadap perempuan. Kejadian itu tentu menyisakan kenangan perih karena kehilangan kesucian yang berusaha dipertahankan. Kaum perempuan sebagai kalangan yang harusnya dilindungi justru mendapatkan ancaman kriminalitas. Mereka mendapatkan gejala serangan asusila yang mengorbankan harga diri.
     Perkembangan suburnya kasus pemerkosaan sendiri sudah banyak terjadi. Tapi mulai ramai kembali menyusul kasus yang menimpa Livia, mahasiswa Binus pada 16 Agustus lalu. Korban menaiki angkot M 24 jurusan Slipi – Srengseng. Dirinya diperkosa dan mayatnya dibuang. Kejadian mengerikan ini memicu ketakutan banyak perempuan untuk naik angkot.
     Belum selesai satu masalah pemerkosaan, masyarakat kembali dikejutkan pemerkosaan karyawati berinisial RS. Dirinya mengalami perampokan dan pemerkosaan saat menaiki angkot yang berputar di sepanjang Jl TB Simatupang. Salah seorang pelaku akhirnya dapat ditangkap dua minggu kemudian setelah korban melihat supir angkot pemerkosanya. Tanpa ampun, korban melaporkan ke kepolisan terdekat yang langsung meringkusnya.
    Rentetan kasus pemerkosaan itu menambah deretan panjang kriminalitas perkosaan di Jakarta. Sebelumnya jumlah kasus perkosaan di Jakarta selama Januari hingga September 2011 mencapai 3753 kasus. Khusus di Jakarta terdapat 40 kasus. Sebagian besar korbannya dicekoki miras kemudian diperkosa dalam rumah. Sedangkan, tiga kasus pemerkosaan terjadi di angkutan umum.
Kerawanan angkutan umum langsung mendapat respons banyak pihak. Kalangan penegak hukum mengambil kebijakan merazia angkot. Supir tembak dan kaca gelap mobil angkot dianggap pokok persoalan maraknya perkosaan sehingga menjadi sasaran razia.
Tidak ketinggalan komentar Fauzi Bowo yang menyatakan bahwa pemerkosaan di angkutan umum muncul karena gaya busana minim. Bupati Aceh Barat Ramli Mansur juga menyatakan perempuan berbusana minim seakan minta dan layak diperkosa.
Menjawab tudingan para birokrat, banyak kaum perempuan merasa terlecehkan. Para perempuan penyuka rok mini berdemonstrasi dan menolak disalahkan. Sebaliknya, mereka menyalahkan ucapan keduanya yang dianggap menimbulkan polemik karena bias gender. Perkataan Foke dan Ramli dianggap menistakan korban yang seharusnya membutuhkan perawatan dan pertolongan fisik.
Rok Mini, sebuah kesalahan ?
Kecaman sekelompok perempuan itu memang dianggap sebuah kewajaran. Tapi bukan sebuah sikap bijak menyalahkan sepenuhnya komentar Foke dan Ramli. Sebab pencegahan dari tindakan kejahatan memang seharusnya dilakukan sejak dini. Sebab kejahatan timbul karena adanya aksi – reaksi. Pemakaian rok mini, perhiasan berlebihan dan pakaian ketat sangat rawan tindakan pelecehan seksual.
Hemat penulis, kita layak mengutuk perbuatan pemerkosaan yang melanda banyak kaum perempuan. Timbulnya tindak pemerkosaan di angkutan umum sangat meresahkan masyarakat utamanya kaum perempuan. Pelaku kejahatan layak dihukum berat atas perbuatannya merusak dan menghilangkan harga diri wanita.
Tapi perlu dipikirkan kembali pendapat Ketua MUI Amidhan. Beliau menegaskan kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Perempuan berbusana ketat, rok mini dan mengumbar aurat dapat membuat syahwat lelaki bergejolak. Pemakaian busana yang meminggirkan aturan agama ditambah perhiasan berlebihan seperti memberikan kesempatan kepada orang lain membuat kejahatan. Apalagi di banyak kota besar banyak perempuan berpakaian tapi sesungguhnya “telanjang”.
Momentum maraknya pemerkosaan seharusnya menjadi ajang refleksi. Kalangan perempuan harus mengembalikan fitrahnya dengan menutup auratnya. Sebab potensi kejahatan seksual banyak dialami perempuan berbusana minim. Ada baiknya, mereka menutup tubuhnya berbalut jilbab dan busana yang sopan. Jika tidak sesuai syariat Islam, minimal menutup kaki sampai di bawah dengkul.
Islam sendiri sebagai agama sudah mengajarkan perempuan bagaimana melindungi dirinya. Syariat Islam meminta kaum muslimah menutup auratnya yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Lebih tegas, Allah menyuruh muslimah untuk berjilbab. Pemakaian jilbab bertujuan agar tidak diganggu lelaki yang bukan muhrimnya.
"Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu." (al-Ahzab: 59)
Akhirnya hemat penulis, masalah perkosaan di angkutan umum ada dua solusi. Pertama, adanya kesalahan paradigma dari perempuan rok mini bukan sebuah kesalahan. Demonstrasi perempuan penyuka rok mini menjadi sebuah pemantik kejahatan seksual.
Sebaiknya, mereka intropeksi diri memakai busana sopan dan sesuai aturan agama. Jika perlu memakai jilbab sehingga tidak ada sejengkal aurat dapat dinikmati lawan jenisnya.
Kedua, lemahnya perlindungan hukum terhadap kaum perempuan. Pemerintah daerah dan penegak hukum harus mulai tegas terhadap pelaku kejahatan. Pengusutan laporan kejahatan seksual jangan berhenti pada berkas laporan saja. Pelaku harus ditangkap dan diberikan hukuman seberat – beratnya.
Pemerintah daerah dan dinas perhubungan juga harus menindak tegas oknum supir tembak dan kaca mobil angkutan umum. Ini penting demi mencegah kejahatan serupa terulang sekaligus memberikan jaminan keamanan terhadap penumpang perempuan.
Penulis: Inggar Saputra
Pengurus Pusat Persatuan KAMMI dan peneliti Insure

Jumat, 09 September 2011

Memaknai Kembali Hari Olahraga Nasional

Share

  Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2001, hari ini diperingati serentak di seluruh Indonesia, di Jakarta upacara peringatan HAORNAS digelar di halaman Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Tema peringatan Haornas 2011 kali ini adalah "Satu Indonesia, Bangkit dan Maju".  Dengan tema ini, kita ingin olahraga semakin maju dan tidak ketinggalan oleh kemajuan bangsa pada bidang-bidang lain seperti ekonomi, demokrasi dan teknologi.

Di tengah-tengah kemerosotan prestasi para atlet kita, masih pantaskah kita merayakannya? Banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Bukan hanya oleh atlet, pelatih dan para pembina olahraga. Pemerintah dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama.
Peringatan Haornas pertama kali diselenggarakan pada 9 September 1983. Tanggal tersebut sengaja dipilih untuk mengenang sejarah diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi perdana. PON I digelar 9-12 September 1948, di Solo, melibatkan tak kurang dari 600 atlet yang bertanding dalam sembilan cabang olahraga.
Kesuksesan menggelar PON hanya tiga tahun setelah kita memproklamasikan kemerdekaan adalah sebuah prestasi istimewa. Melalui ajang ini, Indonesia menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang berdaulat dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah situasi keamanan nasional yang belum sepenuhnya terjamin, kita mampu menggelar pesta olahraga nasional.
Olahraga memang menjadi instrumen penting bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia (national character building). Di tahun 1962, Indonesia kembali menjadi pusat perhatian dunia saat sukses menjadi tuan rumah Asian Games. Hanya setahun berselang, kita kembali membuat buah bibir lantaran menggelar Games of New Emerging Forces (Ganefo).
Ajang multicabang itu memang dimaksudkan untuk menjadi ‘olimpiade tandingan’. Betapa tidak? Ganefo diikuti oleh 2.200 atlet dari 48 negara. Ganefo adalah alat propaganda Soekarno dalam menyebarkan konsepsinya mengenai dualisme kekuatan dunia saat itu, Oldefo (Old Established Forces) dan Nefo (New Emerging Forces). Pemicu lain adalah keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk mengeluarkan Indonesia dari keanggotaannya setelah kita menentang kepesertaan Israel dan Taiwan dalam Asian Games.
Tumbangnya kekuasaan Soekarno dan berkuasanya rezim Orde Baru tidak berarti perhatian terhadap olahraga menurun. Penetapan tanggal 9 September sebagai Haornas adalah salah satu bukti bahwa Soeharto juga concern dengan olahraga.
Bukti lain yang tak terbantahkan adalah prestasi kita di Sea Games. Sejak pertama kali berpartisipasi pada 1977, Indonesia sudah sembilan kali menjadi juara. Dan yang mengejutkan, semua gelar prestisius itu kita raih di periode kepemimpinan Pak Harto. Pasca runtuhnya Orde Baru, kita belum berhasil mengulangi prestasi manis itu.
Di Olimpiade Seoul 1988, akhirnya Sang Merah Putih bisa berkibar. Tapi, kala itu Indonesia baru bisa meraih medali perak melalui cabang panahan nomor beregu putri. Empat tahun berselang, momen bersejarah akhirnya datang saat Susy Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua medali emas di Olimpiade Atlanta. Sejak itu, bulutangkis tak pernah absen menyumbang medali emas bagi Indonesia dalam tiga penyelenggaraan Olimpiade (Sidney 2000, Athena 2004 dan Beijing 2008).
Entah kebetulan atau tidak, pasca reformasi politik yang terjadi di tanah air pada 1998, prestasi olahraga Indonesia cenderung menurun. Betul bahwa medali emas olimpiade bisa kita pertahankan, tapi tak bisa dimungkiri bahwa atlet bulutangkis kita semakin sulit mengimbangi persaingan atlet-atlet mancanegara. Hal ini bisa dilihat dari pencapaian anak-anak Cipayung di berbagai turnamen bulutangkis, baik beregu maupun perseorangan.
 Prestasi Indonesia di Asian Games (AG) juga sempat menunjukkan tren penurunan, dari posisi ke-11 pada AG 1998, menjadi peringkat 14 di AG 2002 dan posisi ke-22 di AG 2006. Untungnya pada AG 2010 lalu kita bisa merangkak naik kembali ke posisi 15 dari 45 negara peserta.
Sementara itu, dalam enam kali penyelenggaraan Sea Games terakhir, kita juga kesulitan mengembalikan supremasi. Lima kali Indonesia harus puas duduk di urutan ketiga (1999, 2001, 2003, 2007 dan 2009), dan sekali terpuruk di peringkat lima (2005). Kejayaan kita di masa lalu seolah tak berbekas.
Berbagai fakta tersebut seharusnya menyadarkan para pembina olahraga di Indonesia, suatu perubahan revolusioner harus dilakukan. Kita sudah tertinggal beberapa langkah di banding negara-negara tetangga. Jika kita hanya jalan di tempat jangan harap ada peningkatan raihan prestasi.
Perubahan paradigma jadul harus dilakukan. Era sport science sudah bukan lagi sekadar wacana. Kemajuan ilmu teknologi sudah dimanfaatkan negara lain untuk mendukun peningkatan prestasi olahraga. Para pengurus induk organisasi olahraga jangan lagi hanya menunggu berkah dari langit, munculnya atlet berbakat.
Alangkah baiknya jika peringatan haornas ke-28 ini menjadi momentum kebangkitan prestasi olahraga kita di level dunia. Sudah 27 kali kita melalui haornas hanya sebagai sebuah seremonial belaka. Slogan “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga” yang 28 tahun lalu digemakan oleh Soeharto harus direalisasikan.
Salah satu masalah klasik mandeknya prestasi kita adalah lemahnya pondasi pembinaan olahraga di tanah air. Pembibitan olahraga adalah tahapan penting dalam pembinaan prestasi olahraga karena merupakan pondasi dari bangunan sistem pembinaan prestasi olahraga. Dalam proses pembibitan ini peran serta masyarakat mutlak dibutuhkan.
Jika masyarakat sudah ‘diolahragakan’ dan olahraga sudah ‘memasyarakat’, pembibitan bakat-bakat potensial niscaya akan lebih mudah. Well, pada akhirnya kita memang tidak bisa cuma mengandalkan pemerintah tapi juga harus turut mengambil peran dalam upaya menggelorakan semangat dan prestasi olahraga nasional.
Selamat Hari Olahraga Nasional!

Senin, 29 Agustus 2011

IDUL FITRI

Share

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.... 
Bismillahirrahmaanirrahiim.... 

Rasulullah.saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',” (Diriwayatkan Ahmad)

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan istri baru (bagi yang baru menikah tentunya...). Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?.

Idul Fitri, ya suatu hari raya yang dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dalam istilah sekarang ini dikenal dengan ”Perjanjian Primordial” sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah yang berisi pengakuan ke Tuhan-nan.
Allah.swt berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

"(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)"
. (al-A’raf  7 :172)

Seiring dengan perkembangan itu sendiri, banyak di antara manusia dalam perjalanan hidupnya yang melupakan Allah serta telah melakukan dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Untuk itu, memahami kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) dengan membangun kembali pengabdian hanya kepada Allah adalah sebuah keharusan sehingga kita semua dapat menjadi hamba-hamba muttaqin dan hamba yang tidak mempunyai dosa. Dosa kepada Allah terhapus dengan jalan bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim.

Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang lain.

(Dari al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin al-Mutawakkil keduanya dari Abd al-Razaq dari al-Ma’mar dari al-Hasan dan Malik bin Anas dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW senang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) meskipun tidak mewajibkannya. Kemudian bersabda : ”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu". Kemudian Rasulullah wafat, sedang masalah Qiyam Ramadhan tetap seperti sediakala pada pemerintahan Sayyidina Abu Bakar.ra dan pada awal pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab.ra).

(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya").

Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah dilakukan oleh setiap manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau karena mereka melanggar larangan Allah dan RasulNya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan lain yang harus kita cermati, betapa disaat kita berbahagia , saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar. Bersyukurlah kita!

Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami - Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....

Senin, 22 Agustus 2011

KEPOMPONG RAMADHAN

Share

    Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).
     Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat burlu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.
    Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur'an dan Al Hadits.
    Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam 'kepompong' Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan "metamorfosa" dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

     Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at [79] : 40 - 41).
    Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala," demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).
     Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.
     Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.
     Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.
    Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.***
(Dari Kumpulan Tausyiah K.H. Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qalbu)

Jumat, 19 Agustus 2011

Kritik Jingle Iklan Ramadhan PERTAMINA

Share

 
       Iklan dengan latar belakang suatu kampong di ranah Minang ini sangat menyentuh sekali. Diceritakan seorang ayah sedang menasehati anaknya yg bernama Hakim
Ayah : “Pusako ko warisan ninik mamak, jadi waang nan tapek manaruihkannyo”
Hakim : “Tapi yaah……”
Ayah : “Kalau itu pilihan waang, pailah….”

       Lalu Hakim pergi meninggalkan rumah gadang untuk pergi merantau. Ketika kakinya melangkah hendak meninggalkan rumah, sang adik mengejar dan memberikan kacio (Celengan) kepada Uda Hakim-nya. Namun uda Hakim menolak dan berpesan pada adiknya, “Kau jago ayah yoo…”

      Adegan selanjutnya sang ayah bersama adiknya kesepian di rumah gadang. Berbuka puasa hanya mereka berdua. Tidak tampak sosok ibu diantara mereka.
Sedangkan Hakim sudah sukses di rantau dengan usaha rumah makannya. Sampai suatu saat ketika Hakim membuka laci meja kerjanya,  sebuah foto terjatuh. Foto Hakim, Ayah, dan sang Adik. Semakin jelas tidak ada sosok ibu diantara mereka.

        Iklan ini ditutup dengan adegan adik Hakim menerima paket kiriman Hakim dari rantau yang ternyata adalah selembar kain sarung untuk sang ayah. Lalu sebuah pesan penutup, “Keikhlasan mengantar kita pada keberkahan”

       Dari cerita di iklan ini digambarkan bagaimana seorang laki-laki di Minang cenderung memilih untuk merantau ketika muda. Sesuai dengan pantun adat yang berbunyi
Karatau madang dihulu,
Babuah babungo balun.
Marantau bujang dahulu,
Dirumah paguno balun.

Artinya :
Keratau medang dihulu,
Berbuah berbunga belum.
Merantau bujang dahulu,
Dirumah berguna belum.

        Keteguhan untuk memilih pergi merantau kadang tidak mengindahkan romantisme kampong halaman. Walau belum ada kepastian masa depan di rantau, tapi “pergi” dari kampong halaman adalah semacam pertaruhan harga diri. Ada pameo di ranah Minang, lebih baik melarat di rantau daripada melarat di kampong.
          Kondisi ini didorong oleh posisi laki-laki dalam adat Minangkabau. Sebab status anak laki-laki di Minang yang pada dasarnya tak punya apa-apa. Dia bisa saja berusaha di kampungnya diatas harta pusaka yang ada, akan tetapi harta itu jatuhnya kepada anak yang perempuan. Anak laki-laki tak akan dapat mewariskan harta itu untuk anaknya sendiri, sebab anaknya itu adalah suku lain atau orang lain. Kalau dia mau membuka usaha  ditanah ulayat, yang bebas dilakukan hanyalah menanam tanaman muda, tapi kalau menanam tanaman tua yang berarti memakai secara permanen, akan banyak persoalan.
    Seorang lelaki Minang hanya akan memiliki dasar hukum yang kuat bila berusaha diatas tanah yang dia beli , jelas dia berkuasa disitu dan bias diwariskan kepada anaknya. Akan tetapi membeli tanah di Minangkabau tidaklah mudah. Sebab status tanah adalah milik bersama, tanah ulayat, jadi yang menjual tanah itu adalah banyak orang. Sementara kalau membeli tanah dirantau orang, tidak banyak prosedur, asal ada uang.

          Kembali ke iklan edisi Ramadhan dari Pertamina tadi. Ada beberapa kejanggalan ditemui dalam iklan tersebut.
1.      Diceritakan sang ayah meminta anaknya, Hakim, untuk meneruskan PUSAKO warisan Ninik Mamak. Pusako yang diwariskan dari Ninik Mamak adalah Pusako Tinggi, yaitu harta ulayat seperti rumah gadang dan tanah/sawah. Pusako ini tidak diturunkan ke kamanakan laki-laki, tetapi ke kamanakan perempuan. Jadi adalah janggal jika Hakim (kamanakan laki-laki) diminta meneruskan pusako dari ninik mamak. Kaum laki-laki dalam adat Minang tidak mewarisi Pusako tinggi tetapi Sako, yaitu gelar adat yang berfungsi sebagai pengontrol dan penjaga pusako.
2.      Ayah Hakim dan adiknya tinggal di rumah gadang. Di Ranah Minang, yang berhak mendiami rumah gadang adalah kaum perempuan. Sedangkan suami adalah tamu di rumah gadang tersebut. Posisinya sangat lemah, ibarat abu diatas tunggul, kata kiasan adat. Di iklan tersebut sosok sang ibu sama sekali tidak terlihat, dan dipertegas dengan foto yang dilihat oleh Hakim. Bisa diartikan bahwa sang ibu sudah tidak ada (meninggal?). Jika dalam kondisi sang ibu sudah tidak ada, maka sang ayah tidak lazim tinggal di rumah gadang sang ibu. 

Jadi ada dua hal yang menjadi topic kejanggalan dalam iklan tersebut.
Harta Pusaka/Pusako
Rumah Gadang

Mari kita coba bahas satu persatu

Harta Pusaka/Pusako, harta warisan komunal (harta ulayat) yang diwariskan secara matrilineal. Hak milik secara ulayat jatuh ke tangan kamanakan perempuan. sedangkan kamanakan laki2 mendapat Sako, yaitu gelar adat dan berfungsi untuk menjaga Pusako tinggi tersebut. Pusako tinggi ini tidak bisa diperjualbelikan atau digadaikan kecuali 4 kondisi berikut, 
a. Mambangkik batang tarandam. Mengangkat kembali Sako (gelar adat Datuk). Untuk pengangkatan gelar Datuk harus diadakan dalam upacara adat yang memakan biaya cukup besar.
b. Gadih gadang indak ba laki. Jika ada seorang kamanakan perempuan yang sudah cukup umur tidak bisa menikah karena kendala biaya, maka pusako tinggi bisa digadaikan.
c. Rumah Gadang katirisan. Jika Rumah Gadang ada kerusakan dan butuh biaya untuk renovasinya.
d. Mayik tabujua ditangah rumah. Jika ada mayat harus dikuburkan, namun tidak ada biaya untuk penyelenggaraannya, maka pusako bisa digadaikan.

      Sistem ulayat pada pusako ini meminimalisir terjadinya kemiskinan atau kelaparan bagi kamanakan, karena setiap kamanakan perempuan punya hak untuk mengolah sawah pusako dan wajib membagi hasilnya kepada kerabat kaum yang membutuhkan.
     Tentang Sako, ini adalah gelar adat seperti sutan atau Datuk. Diwarisi dari mamak (saudara laki-laki ibu) ke kamanakan. Fungsinya adalah untuk menjaga Pusako Tinggi. Setiap laki-laki Minang yang sudah menikah maka akan diberikan gelar adat dan nama kecilnya tidak akan dipanggilkan lagi. Seperti kata pepatah adat, Ketek banamo, gadang bagala (kecil bernama, besar bergelar). Contohnya nama saya adalah Yudi. Ketika menikah oleh ninik mamak diberikan gelar Rajo Mangkuto.
      Lalu ada gelar Datuak, yaitu gelar untuk Penghulu (pimpinan adat). Ada beberapa tingkatan gelar Datuak. Mulai dari Datuak untuk kaum (satu nenek), Datuak kepala Suku, sampai ke Datuak Pucuak atau Datuak yang mengepalai seluruh Datuak di Nagari tersebut.
     Untuk Harta pencaharian orang tua disebut Pusako randah dan dapat diwariskan kepada anak laki-laki dan perempuan sesuai dengan hukum Islam.

Rumah Gadang, adalah rumah komunal tempat berdiamnya kerabat satu nenek atau satu kaum. Biasanya terdiri atas beberapa ruang/kamar yang berjajar memanjang. Kebanyakan terdiri atas 9 ruang tapi ada juga yang sampai puluhan ruang. Setiap perempuan yang sudah menikah berhak menempati satu ruang dengan membawa suaminya. Dahulu, baik suami maupun anak laki-laki datang ke rumah gadang ini hanya untuk makan dan tidur. Selebihnya mereka hidup di luar mencari pendapatan atau belajar agama dan silat di surau.
       Jika suatu saat sang istri meninggal, maka suami “harus” meninggalkan rumah gadang istrinya. Jika ia masih punya rumah gadang dari kaumnya, maka bisa menumpang sementara.  Namun jika ia tak punya rumah gadang atau sanak saudara kadang terpaksa harus menumpang tinggal di surau atau tempat-tempat lain. Kondisi inilah salah satunya yang mendorong kaum laki-laki di Minang untuk berjuang memperoleh harta sendiri.
Terlepas dari kejanggalan tersebut, iklan ini cukup berhasil mengangkat tema-tema budaya dan menyentuh sisi humanis hubungan anak dan ayah.

   

Rabu, 17 Agustus 2011

SUDAHKAH KITA MERDEKA?

Share

   Dibalik semarak penyambutan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 66, fakta yang tak terbantahkan adalah kemerdekaan belum sepenuhnya dialami rakyat. Sesungguhnya yang benar-benar merdeka adalah negara Indonesia. Indonesia sudah merdeka dari tangan penjajah. Kita tidak lagi dijajah Belanda juga Jepang.. namun sebagian warga negara Indonesia belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahkan, sebenarnya banyak warga Indonesia yang masih hidup dalam kemiskinan dan keterisolasian.
Merdeka? Upss...tunggu dulu. Ya, kemerdekaan bagi rakyatnya, tidak terasa aromanya. Hanya segelintir rakyat saja yang telah merasakan hakekat merdeka, terlepas dari penindasan dan penjajahan. Mereka yang punya kedudukan, punya kekuasaan, punya banyak uang. Merekalah yang telah meneguk dengan serakah kemerdekaan ini. Mereka tidak akan merasakan lagi adanya penjajahan, penindasan, perampasan ataupun kekejaman penjajah. Mereka sudah bebas melakukan segala. Mereka bebas hidup, bebas berbuat, bebas mengatur, bebas berkolusi, bebas korupsi, bebas menindas sesama, dan bebas mempermainkan hukum.
Fakta ini memang ada dihadapan kita. Lihatlah wajah mereka berbinar-binar, mereka terlihat sibuk mengekspresikan kebahagiaan, Lomba-lomba mereka gelar dengan kelebihan uang dan makanan. Hiburan-hiburan ditampilkan meriah dan mahal. Tak peduli uang rakyat yang dihamburkan. Bahkan tak jarang pejabat yang berani berkorban membakar uang rakyat dengan membelanjakannya untuk pesta kembang api yang spectakuler. Sesungguhnya sebuah negara pantas disebut merdeka jika di dalamnya setiap orang sungguh merdeka dari kebutuhan, kemiskinan (freedom from needs or want), merdeka dari ketakutan (freedom from fear), merdeka untuk beribadah (freedom of every person to worship God), dan merdeka untuk berpendapat dan berekspresi (freedom of speech and expression).
Padahal sebagian rakyat kita masih banyak yang belum tahu bagaimana rasa manisnya kemerdekaan. Bahkan mereka lupa kapan hari kemerdekaan itu. Mereka tidak bisa menikmati berbagai hiburan, atau perlombaan yang disajikan. Mereka tidak akan bisa khusuk upacara dan menghormat bendera. Mereka justru masih disibukan dengan usaha mencari sesuap nasi. Mereka masih sibuk memikirkan apakah esok anak dan istri dirumah mendapat makanan. Lihatlah, para kaum miskin,  para pengangguran dan korban-korban gusuran..
Peringatan ulang tahun kemerdekaan RI ke-66 yang kita peringati pada hari ini yang bertepatan pula dengan bulan puasa Ramadhan(bulan penuh rahmat dan ampunan), sesungguhnya moment yang tepat, bagi para penguasa negeri ini untuk merefleksi diri. Jurang pemisah yang ada di masyarakat kita saat ini sudah sangat mengangah. Tidak hanya perbedaan antara si mikin dengan yang si kaya saja. Tetapi antara orang yang sudah merdeka dengan mereka yang belum merdeka. Semoga moment ini dapat membuka mata hati para penguasa yang ditangannya tergantung nasib jutaan rakyat Indonesia yang mendambakan kemerdekaan yang sesungguhnya. MERDEKA!!!!

Kamis, 04 Agustus 2011

Tips Berolahraga di Bulan Ramadhan

Share

   Membaca postingan dari mas Vavai tentang peningkatan kinerja di kala puasa, saya setuju sekali dengan pendapat ini. Puasa bukan berarti bermalas-malasan dan menghilangkan aktivitas rutin kita dengan alasan berpuasa. Seperti misalnya, berolahraga. Banyak teman saya yang lantas meliburkan aktivitas berolahraganya hanya karena berpuasa. Memang ini sebuah pilihan. Saya sendiri meski berpuasa, aktivitas rutin berolahraga seminggu dua sekali (adakalanya setiap sore), yakni bermain Tenis Lapangan masih tetap jalan terus di sore hari. Alhamdulillah...
    Meski demikian, agar aktivitas berolahraga di bulan puasa ini tetap dapat berjalan dengan baik dan tidak mengganggu dari ibadah puasa itu sendiri, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan :

Berolahragalah di sore hari menjelang waktu berbuka
Jangan memilih waktu berolahraga di pagi atau siang hari. Pilihlah waktu di sore hari menjelang waktu berbuka. Saya sendiri memilih waktu 2 jam sebelum waktu berbuka untuk berolahraga Tenis Lapangan. Jadi begitu selesai bermain, dapat langsung berbuka pada saat sudah masuk waktunya berbuka.

Tidur, makan & minum yang cukup waktu malam sebelumnya
Aktivitas berolahraga adalah aktivitas yang banyak menguras energi. Agar tetap fit dan tidak lemas berolahraga di kala puasa, tidur makan dan minum haruslah cukup. Kalau saya sedniri karena gampang mengeluarkan keringat, porsi minum saya perlebih di bulan puasa ini supaya tidak terlalu merasa haus ketika sedang berolahraga.

Berolahraga mulai dari porsi yang sedikit demi sedikit
Di hari pertama berolahraga di bulan puasa, porsi latihan atau aktivitasnya sebaiknya dimulai dari porsi yang ringan, sedikit demi sedikit. Jangan langsung digenjot dengan aktivitas fisik yang berat. Misal biasanya jogging sejauh 3 km. Di bulan puasa ini, mulailah dari 1 km saja terlebih dahulu. Saya sendiri, di puasa hari pertama kemarin, hanya bermain 2 set saja untuk bermain Tenis Lapangan (dimulai Jam 16.30 WIB). Jika memang anda kuat dan merasa mampu, boleh saja porsi ditambah terus. Tentu, yang bisa menilai sejauhmana anda kuat ya anda sendiri. Kalau memang tidak kuat dengan porsi normal seperti pada saat tidak berpuasa, janganlah dipaksakan.

Segera berbuka bila sudah waktunya
Bila sudah masuk waktunya berbuka, jangan menunda untuk berbuka. Segera minum dan makan secukupnya dengan asupan makanan yang bergizi untuk mengganti energi tubuh yang hilang pada saat berolahraga di saat puasa tadi.

Jadi, berolahraga tapi tetap berpuasa? Siapa takut....
Tubuh bugar, puasa lancar.... ;-)