Natural, Informative And Educative

Natural, Informative And Educative
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE 75, SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA, MARHABAN YA MUHARRAM. SELAMAT MEMASUKI TAHUN BARU ISLAM 1442 H" Mohon maaf lahir batin

Senin, 29 Agustus 2011

IDUL FITRI

Share

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.... 
Bismillahirrahmaanirrahiim.... 

Rasulullah.saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',” (Diriwayatkan Ahmad)

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan istri baru (bagi yang baru menikah tentunya...). Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?.

Idul Fitri, ya suatu hari raya yang dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dalam istilah sekarang ini dikenal dengan ”Perjanjian Primordial” sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah yang berisi pengakuan ke Tuhan-nan.
Allah.swt berfirman :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

"(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”)"
. (al-A’raf  7 :172)

Seiring dengan perkembangan itu sendiri, banyak di antara manusia dalam perjalanan hidupnya yang melupakan Allah serta telah melakukan dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Untuk itu, memahami kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) dengan membangun kembali pengabdian hanya kepada Allah adalah sebuah keharusan sehingga kita semua dapat menjadi hamba-hamba muttaqin dan hamba yang tidak mempunyai dosa. Dosa kepada Allah terhapus dengan jalan bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim.

Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang lain.

(Dari al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin al-Mutawakkil keduanya dari Abd al-Razaq dari al-Ma’mar dari al-Hasan dan Malik bin Anas dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW senang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) meskipun tidak mewajibkannya. Kemudian bersabda : ”Barangsiapa melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu". Kemudian Rasulullah wafat, sedang masalah Qiyam Ramadhan tetap seperti sediakala pada pemerintahan Sayyidina Abu Bakar.ra dan pada awal pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab.ra).

(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya").

Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah dilakukan oleh setiap manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau karena mereka melanggar larangan Allah dan RasulNya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan shalat tarawih

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan lain yang harus kita cermati, betapa disaat kita berbahagia , saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar. Bersyukurlah kita!

Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami - Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....

Senin, 22 Agustus 2011

KEPOMPONG RAMADHAN

Share

    Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).
     Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat burlu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.
    Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur'an dan Al Hadits.
    Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam 'kepompong' Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan "metamorfosa" dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

     Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at [79] : 40 - 41).
    Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala," demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).
     Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.
     Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.
     Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.
    Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.***
(Dari Kumpulan Tausyiah K.H. Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qalbu)

Jumat, 19 Agustus 2011

Kritik Jingle Iklan Ramadhan PERTAMINA

Share

 
       Iklan dengan latar belakang suatu kampong di ranah Minang ini sangat menyentuh sekali. Diceritakan seorang ayah sedang menasehati anaknya yg bernama Hakim
Ayah : “Pusako ko warisan ninik mamak, jadi waang nan tapek manaruihkannyo”
Hakim : Tapi yaah……”
Ayah : Kalau itu pilihan waang, pailah….”

       Lalu Hakim pergi meninggalkan rumah gadang untuk pergi merantau. Ketika kakinya melangkah hendak meninggalkan rumah, sang adik mengejar dan memberikan kacio (Celengan) kepada Uda Hakim-nya. Namun uda Hakim menolak dan berpesan pada adiknya, “Kau jago ayah yoo…”

      Adegan selanjutnya sang ayah bersama adiknya kesepian di rumah gadang. Berbuka puasa hanya mereka berdua. Tidak tampak sosok ibu diantara mereka.
Sedangkan Hakim sudah sukses di rantau dengan usaha rumah makannya. Sampai suatu saat ketika Hakim membuka laci meja kerjanya,  sebuah foto terjatuh. Foto Hakim, Ayah, dan sang Adik. Semakin jelas tidak ada sosok ibu diantara mereka.

        Iklan ini ditutup dengan adegan adik Hakim menerima paket kiriman Hakim dari rantau yang ternyata adalah selembar kain sarung untuk sang ayah. Lalu sebuah pesan penutup, “Keikhlasan mengantar kita pada keberkahan”

       Dari cerita di iklan ini digambarkan bagaimana seorang laki-laki di Minang cenderung memilih untuk merantau ketika muda. Sesuai dengan pantun adat yang berbunyi
Karatau madang dihulu,
Babuah babungo balun.
Marantau bujang dahulu,
Dirumah paguno balun.

Artinya :
Keratau medang dihulu,
Berbuah berbunga belum.
Merantau bujang dahulu,
Dirumah berguna belum.

        Keteguhan untuk memilih pergi merantau kadang tidak mengindahkan romantisme kampong halaman. Walau belum ada kepastian masa depan di rantau, tapi “pergi” dari kampong halaman adalah semacam pertaruhan harga diri. Ada pameo di ranah Minang, lebih baik melarat di rantau daripada melarat di kampong.
          Kondisi ini didorong oleh posisi laki-laki dalam adat Minangkabau. Sebab status anak laki-laki di Minang yang pada dasarnya tak punya apa-apa. Dia bisa saja berusaha di kampungnya diatas harta pusaka yang ada, akan tetapi harta itu jatuhnya kepada anak yang perempuan. Anak laki-laki tak akan dapat mewariskan harta itu untuk anaknya sendiri, sebab anaknya itu adalah suku lain atau orang lain. Kalau dia mau membuka usaha  ditanah ulayat, yang bebas dilakukan hanyalah menanam tanaman muda, tapi kalau menanam tanaman tua yang berarti memakai secara permanen, akan banyak persoalan.
    Seorang lelaki Minang hanya akan memiliki dasar hukum yang kuat bila berusaha diatas tanah yang dia beli , jelas dia berkuasa disitu dan bias diwariskan kepada anaknya. Akan tetapi membeli tanah di Minangkabau tidaklah mudah. Sebab status tanah adalah milik bersama, tanah ulayat, jadi yang menjual tanah itu adalah banyak orang. Sementara kalau membeli tanah dirantau orang, tidak banyak prosedur, asal ada uang.

          Kembali ke iklan edisi Ramadhan dari Pertamina tadi. Ada beberapa kejanggalan ditemui dalam iklan tersebut.
1.      Diceritakan sang ayah meminta anaknya, Hakim, untuk meneruskan PUSAKO warisan Ninik Mamak. Pusako yang diwariskan dari Ninik Mamak adalah Pusako Tinggi, yaitu harta ulayat seperti rumah gadang dan tanah/sawah. Pusako ini tidak diturunkan ke kamanakan laki-laki, tetapi ke kamanakan perempuan. Jadi adalah janggal jika Hakim (kamanakan laki-laki) diminta meneruskan pusako dari ninik mamak. Kaum laki-laki dalam adat Minang tidak mewarisi Pusako tinggi tetapi Sako, yaitu gelar adat yang berfungsi sebagai pengontrol dan penjaga pusako.
2.      Ayah Hakim dan adiknya tinggal di rumah gadang. Di Ranah Minang, yang berhak mendiami rumah gadang adalah kaum perempuan. Sedangkan suami adalah tamu di rumah gadang tersebut. Posisinya sangat lemah, ibarat abu diatas tunggul, kata kiasan adat. Di iklan tersebut sosok sang ibu sama sekali tidak terlihat, dan dipertegas dengan foto yang dilihat oleh Hakim. Bisa diartikan bahwa sang ibu sudah tidak ada (meninggal?). Jika dalam kondisi sang ibu sudah tidak ada, maka sang ayah tidak lazim tinggal di rumah gadang sang ibu. 

Jadi ada dua hal yang menjadi topic kejanggalan dalam iklan tersebut.
Harta Pusaka/Pusako
Rumah Gadang

Mari kita coba bahas satu persatu

Harta Pusaka/Pusako, harta warisan komunal (harta ulayat) yang diwariskan secara matrilineal. Hak milik secara ulayat jatuh ke tangan kamanakan perempuan. sedangkan kamanakan laki2 mendapat Sako, yaitu gelar adat dan berfungsi untuk menjaga Pusako tinggi tersebut. Pusako tinggi ini tidak bisa diperjualbelikan atau digadaikan kecuali 4 kondisi berikut, 
a. Mambangkik batang tarandam. Mengangkat kembali Sako (gelar adat Datuk). Untuk pengangkatan gelar Datuk harus diadakan dalam upacara adat yang memakan biaya cukup besar.
b. Gadih gadang indak ba laki. Jika ada seorang kamanakan perempuan yang sudah cukup umur tidak bisa menikah karena kendala biaya, maka pusako tinggi bisa digadaikan.
c. Rumah Gadang katirisan. Jika Rumah Gadang ada kerusakan dan butuh biaya untuk renovasinya.
d. Mayik tabujua ditangah rumah. Jika ada mayat harus dikuburkan, namun tidak ada biaya untuk penyelenggaraannya, maka pusako bisa digadaikan.

      Sistem ulayat pada pusako ini meminimalisir terjadinya kemiskinan atau kelaparan bagi kamanakan, karena setiap kamanakan perempuan punya hak untuk mengolah sawah pusako dan wajib membagi hasilnya kepada kerabat kaum yang membutuhkan.
     Tentang Sako, ini adalah gelar adat seperti sutan atau Datuk. Diwarisi dari mamak (saudara laki-laki ibu) ke kamanakan. Fungsinya adalah untuk menjaga Pusako Tinggi. Setiap laki-laki Minang yang sudah menikah maka akan diberikan gelar adat dan nama kecilnya tidak akan dipanggilkan lagi. Seperti kata pepatah adat, Ketek banamo, gadang bagala (kecil bernama, besar bergelar). Contohnya nama saya adalah Yudi. Ketika menikah oleh ninik mamak diberikan gelar Rajo Mangkuto.
      Lalu ada gelar Datuak, yaitu gelar untuk Penghulu (pimpinan adat). Ada beberapa tingkatan gelar Datuak. Mulai dari Datuak untuk kaum (satu nenek), Datuak kepala Suku, sampai ke Datuak Pucuak atau Datuak yang mengepalai seluruh Datuak di Nagari tersebut.
     Untuk Harta pencaharian orang tua disebut Pusako randah dan dapat diwariskan kepada anak laki-laki dan perempuan sesuai dengan hukum Islam.

Rumah Gadang, adalah rumah komunal tempat berdiamnya kerabat satu nenek atau satu kaum. Biasanya terdiri atas beberapa ruang/kamar yang berjajar memanjang. Kebanyakan terdiri atas 9 ruang tapi ada juga yang sampai puluhan ruang. Setiap perempuan yang sudah menikah berhak menempati satu ruang dengan membawa suaminya. Dahulu, baik suami maupun anak laki-laki datang ke rumah gadang ini hanya untuk makan dan tidur. Selebihnya mereka hidup di luar mencari pendapatan atau belajar agama dan silat di surau.
       Jika suatu saat sang istri meninggal, maka suami “harus” meninggalkan rumah gadang istrinya. Jika ia masih punya rumah gadang dari kaumnya, maka bisa menumpang sementara.  Namun jika ia tak punya rumah gadang atau sanak saudara kadang terpaksa harus menumpang tinggal di surau atau tempat-tempat lain. Kondisi inilah salah satunya yang mendorong kaum laki-laki di Minang untuk berjuang memperoleh harta sendiri.
Terlepas dari kejanggalan tersebut, iklan ini cukup berhasil mengangkat tema-tema budaya dan menyentuh sisi humanis hubungan anak dan ayah.

   

Rabu, 17 Agustus 2011

SUDAHKAH KITA MERDEKA?

Share

   Dibalik semarak penyambutan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 66, fakta yang tak terbantahkan adalah kemerdekaan belum sepenuhnya dialami rakyat. Sesungguhnya yang benar-benar merdeka adalah negara Indonesia. Indonesia sudah merdeka dari tangan penjajah. Kita tidak lagi dijajah Belanda juga Jepang.. namun sebagian warga negara Indonesia belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahkan, sebenarnya banyak warga Indonesia yang masih hidup dalam kemiskinan dan keterisolasian.
Merdeka? Upss...tunggu dulu. Ya, kemerdekaan bagi rakyatnya, tidak terasa aromanya. Hanya segelintir rakyat saja yang telah merasakan hakekat merdeka, terlepas dari penindasan dan penjajahan. Mereka yang punya kedudukan, punya kekuasaan, punya banyak uang. Merekalah yang telah meneguk dengan serakah kemerdekaan ini. Mereka tidak akan merasakan lagi adanya penjajahan, penindasan, perampasan ataupun kekejaman penjajah. Mereka sudah bebas melakukan segala. Mereka bebas hidup, bebas berbuat, bebas mengatur, bebas berkolusi, bebas korupsi, bebas menindas sesama, dan bebas mempermainkan hukum.
Fakta ini memang ada dihadapan kita. Lihatlah wajah mereka berbinar-binar, mereka terlihat sibuk mengekspresikan kebahagiaan, Lomba-lomba mereka gelar dengan kelebihan uang dan makanan. Hiburan-hiburan ditampilkan meriah dan mahal. Tak peduli uang rakyat yang dihamburkan. Bahkan tak jarang pejabat yang berani berkorban membakar uang rakyat dengan membelanjakannya untuk pesta kembang api yang spectakuler. Sesungguhnya sebuah negara pantas disebut merdeka jika di dalamnya setiap orang sungguh merdeka dari kebutuhan, kemiskinan (freedom from needs or want), merdeka dari ketakutan (freedom from fear), merdeka untuk beribadah (freedom of every person to worship God), dan merdeka untuk berpendapat dan berekspresi (freedom of speech and expression).
Padahal sebagian rakyat kita masih banyak yang belum tahu bagaimana rasa manisnya kemerdekaan. Bahkan mereka lupa kapan hari kemerdekaan itu. Mereka tidak bisa menikmati berbagai hiburan, atau perlombaan yang disajikan. Mereka tidak akan bisa khusuk upacara dan menghormat bendera. Mereka justru masih disibukan dengan usaha mencari sesuap nasi. Mereka masih sibuk memikirkan apakah esok anak dan istri dirumah mendapat makanan. Lihatlah, para kaum miskin,  para pengangguran dan korban-korban gusuran..
Peringatan ulang tahun kemerdekaan RI ke-66 yang kita peringati pada hari ini yang bertepatan pula dengan bulan puasa Ramadhan(bulan penuh rahmat dan ampunan), sesungguhnya moment yang tepat, bagi para penguasa negeri ini untuk merefleksi diri. Jurang pemisah yang ada di masyarakat kita saat ini sudah sangat mengangah. Tidak hanya perbedaan antara si mikin dengan yang si kaya saja. Tetapi antara orang yang sudah merdeka dengan mereka yang belum merdeka. Semoga moment ini dapat membuka mata hati para penguasa yang ditangannya tergantung nasib jutaan rakyat Indonesia yang mendambakan kemerdekaan yang sesungguhnya. MERDEKA!!!!

Kamis, 04 Agustus 2011

Tips Berolahraga di Bulan Ramadhan

Share

   Membaca postingan dari mas Vavai tentang peningkatan kinerja di kala puasa, saya setuju sekali dengan pendapat ini. Puasa bukan berarti bermalas-malasan dan menghilangkan aktivitas rutin kita dengan alasan berpuasa. Seperti misalnya, berolahraga. Banyak teman saya yang lantas meliburkan aktivitas berolahraganya hanya karena berpuasa. Memang ini sebuah pilihan. Saya sendiri meski berpuasa, aktivitas rutin berolahraga seminggu dua sekali (adakalanya setiap sore), yakni bermain Tenis Lapangan masih tetap jalan terus di sore hari. Alhamdulillah...
    Meski demikian, agar aktivitas berolahraga di bulan puasa ini tetap dapat berjalan dengan baik dan tidak mengganggu dari ibadah puasa itu sendiri, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan :

Berolahragalah di sore hari menjelang waktu berbuka
Jangan memilih waktu berolahraga di pagi atau siang hari. Pilihlah waktu di sore hari menjelang waktu berbuka. Saya sendiri memilih waktu 2 jam sebelum waktu berbuka untuk berolahraga Tenis Lapangan. Jadi begitu selesai bermain, dapat langsung berbuka pada saat sudah masuk waktunya berbuka.

Tidur, makan & minum yang cukup waktu malam sebelumnya
Aktivitas berolahraga adalah aktivitas yang banyak menguras energi. Agar tetap fit dan tidak lemas berolahraga di kala puasa, tidur makan dan minum haruslah cukup. Kalau saya sedniri karena gampang mengeluarkan keringat, porsi minum saya perlebih di bulan puasa ini supaya tidak terlalu merasa haus ketika sedang berolahraga.

Berolahraga mulai dari porsi yang sedikit demi sedikit
Di hari pertama berolahraga di bulan puasa, porsi latihan atau aktivitasnya sebaiknya dimulai dari porsi yang ringan, sedikit demi sedikit. Jangan langsung digenjot dengan aktivitas fisik yang berat. Misal biasanya jogging sejauh 3 km. Di bulan puasa ini, mulailah dari 1 km saja terlebih dahulu. Saya sendiri, di puasa hari pertama kemarin, hanya bermain 2 set saja untuk bermain Tenis Lapangan (dimulai Jam 16.30 WIB). Jika memang anda kuat dan merasa mampu, boleh saja porsi ditambah terus. Tentu, yang bisa menilai sejauhmana anda kuat ya anda sendiri. Kalau memang tidak kuat dengan porsi normal seperti pada saat tidak berpuasa, janganlah dipaksakan.

Segera berbuka bila sudah waktunya
Bila sudah masuk waktunya berbuka, jangan menunda untuk berbuka. Segera minum dan makan secukupnya dengan asupan makanan yang bergizi untuk mengganti energi tubuh yang hilang pada saat berolahraga di saat puasa tadi.

Jadi, berolahraga tapi tetap berpuasa? Siapa takut....
Tubuh bugar, puasa lancar.... ;-)

Kamis, 28 Juli 2011

Mending Jadi Koruptor daripada Teroris

Share

Teroris ada karena banyak koruptor, sebenarnya yang mau di bom itu adalah para koruptor.
 Teroris kalo beraksi bawa BOM.
 Koruptor kalo beraksi bawa BON.
 Teroris berani mati.
 Koruptot takut mati.
 Teroris membunuh dengan cepat.
 Koruptor membunuh rakyat perlahan-lahan.
 Teroris, diberitakan di media dan kejahatannya selalu diingat orang.
 Koruptor, Sempat diberitakan di media, tetapi kejahatannya biasanya cepat dilupakan orang.
 Teroris, Sekolah tempat ia pernah menuntut ilmu sering dikait-kaitkan dengan kejahatannya.  Maka banyak yang bicara perlunya perubahan kurikulum pesantren untuk meredam potensi teror.
 Koruptor, Sekolah tempat ia pernah menuntut ilmu tidak pernah dikait-kaitkan dengan kejahatannya.  Tidak ada yang repot-repot mengubah kurikulum universitas untuk meredam korupsi.
 Teroris, Banyak orang takut dan menghindar jika disebut-sebut dekat dengan teroris besar.
Koruptor, Banyak orang senang, bangga, dan bahkan ingin dekat dengan koruptor besar.
Jika seorang teroris ditahan dan ditangkap tanpa prosedur hukum yang layak, atau dengan cara-cara yang melanggar HAM, dianggap wajar saja. Tidak ada yang mau repot-repot mempertanyakan, apalagi membela.
Jika koruptor besar, jangankan ditahan, tetapi hanya dicekal, puluhan lawyer siap membela, bahkan polisi pun siap mempersoalkan pencekalan yang dianggap “tidak sesuai prosedur.”
Jika teroris ditahan, pasti dengan tingkat keamanan maksimum. Sulit ditemui keluarga atau pengacara. Tidak bisa menelepon. Ruang tahanan tidak ada nyaman-nyamannya.
Jika koruptor ditahan, bisa ketemu atau menelepon siapa saja. Ruang tahanan sangat nyaman, karena lengkap fasilitasnya (ruang ber-AC dan ada kulkasnya).
Teroris sering disebut pergaulannya terbatas, hanya di lingkungan pendukungnya saja. Tidak bergaul dengan tetangga kiri-kanan.
Koruptor lingkup pergaulannya sangat luas, bahkan punya hubungan sangat baik dengan pejabat pemerintah, anggota DPR, jaksa, aparat keamanan, pengusaha, dan sebagainya.
Jika sempat diadili, teroris tak pernah lolos dari hukuman. Bahkan bisa dihukum mati.
Jika sempat diadili, koruptor lebih sering lolos dari hukuman. Kalau dihukum, juga sangat ringan. Belum pernah ada sejarahnya, koruptor di Indonesia dihukum mati
Seorang teroris, sesudah menjalani hukuman penjara, tak tahu mesti kerja apa. Sulit cari kantor yang mau mempekerjakan mantan teroris.
Seorang koruptor, sesudah menjalani hukuman penjara, tidak perlu kerja apa-apa. Karena hasil korupsinya masih aman dan cukup untuk dinikmati tujuh turunan.
Sekali seseorang dicap teroris, ia kehilangan statusnya sebagai orang terhormat. Bahkan jika sudah mati pun, warga sekitar tempat ia berdomisili menolak ia dikuburkan di pemakaman setempat.
Seorang koruptor tetap punya status terhormat. Di mana-mana, ia tetap diperlakukan dengan ramah dan hormat, diundang ke pesta perkawinan, diminta jadi pembicara di seminar, bahkan boleh berkhotbah soal moral. Kalau meninggal, bebas dimakamkan di mana saja.
Teroris, Dianggap menganut ideologi radikal dan ekstrem.
Koruptor, Dianggap menganut ideologi pragmatis, moderat, lunak, bahkan mungkin tak punya ideologi sama sekali.
Jika berjenggot, bersurban atau berjubah, dianggap memang persis menunjukkan ciri-ciri teroris asal Timur Tengah.
Jika berjenggot, bersurban atau berjubah, dianggap milyuner nyentrik (orang kaya raya ‘kan biasa berperilaku aneh-aneh!).
Penampilan teroris tidak menimbulkan simpati, apalagi kekaguman. Busana pakaiannya terkesan murahan, bahannya berkualitas biasa, mungkin cuma buatan lokal.
Penampilan koruptor sangat rapi dan menimbulkan decak kagum. Busana pakaiannya berkualitas nomor satu, desainnya terkini, bisa buatan Italia atau Perancis
Teroris tidak memberi sumbangan apa-apa pada masyarakat.
Koruptor sering dipandang dermawan, suka menyumbang uang ke berbagai kalangan, bahkan untuk kegiatan amal.
Tindakan teroris sudah pasti 100% melanggar hukum dan undang-undang. Tidak ada tawar-menawar, apalagi kompromi buat teroris.
Koruptor sering kali dibebaskan dari tuntutan, karena semua perbuatannya dianggap sah dan sudah sesuai prosedur hukum dan undang-undang yang berlaku. Selalu terbuka ruang buat kompromi dan tawar-menawar.
Lembaga yang dianggap cukup sukses melawan teroris, Densus 88, mendapat suplai dana besar dan di-support habis.
Lembaga yang dianggap cukup sukses melawan korupsi, KPK, dipreteli wewenangnya
Kalau begini, mending jadi Koruptor daripada teroris. Tapi di Neraka nanti, siksaan siapa yang paling berat yah??
(di plagiat dr: http://catatanjempol.blogdetik.com)

Sabtu, 09 Juli 2011

KHOTBAH NABI S.A.W. MENYAMBUT RAMADHAN

Share

   "Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh
keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Didalam bulan
Ramadhan dibuka segala pintu syurga dan dikunci segala pintu neraka dan
dibelenggu seluruh syaithan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik
dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam
itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan."
 
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka "Selamat datanglah" kepadanya."
 
Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkatan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan qiam dimalam harinya suatu tatawwu'.
Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan didalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan sesuatu fardhu didalam bulan yang lainnya. Barangsiapa menunaikan sesuatu fardhu dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu dibulan lainnya. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertulungan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin didalamnya.
Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya Rahmah, pertengahannya ampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya. Oleh itu banyakkanlah yang empat perkara dibulan Ramadhan.
Dua perkara untuk mendatangkan keredhaan Tuhanmu dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya tiada tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya.
Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan
perlindungan dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang yang
berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk kedalam surga."
(H.R.Ibnu Khuzaimah)


                                     Nasehat Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan

   Selain memerintahkan shaum, dalam menyambut bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan ketika memasuki bulan Ramadhan.
Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat..... Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.

Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.

Kasihilah anak-anak yatim
, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”
“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”
“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Sumber : Puasa bersama Rasulullah, Pengarang : Ibnu Muhammad (Pustaka Al-Bayan Mizan)
http://www.shiar-islam.com

Senin, 27 Juni 2011

RASUL PANUTAN UMMAT

Share

   Salam sejahtera kepada penghulu segenap makhluk yang paling mulia, rakhmat bagi semesta alam, manusia paling sempurna, paling suci, dan penyempurna revolusi zaman, dialah Muhammad SAW. Dialah nabi paling pemurah, paling peramah, penuh kharisma dan kewibawaan, kesantunan, serta bergelar khatamul anbiya. Dialah jalan terang bagi gelapnya kehidupan dengan kesemarakan akhlaknya yang mulia, itulah puncak dari kebesaran dan kesempurnaannya sehingga beroleh gelar Al Amin (yang dipercaya).
   Berkaitan dengan keagungan nabi ini, Sayyid Hussein Nasr seorang cendekiawan muslim terkemuka menulis, "Makhluk yang paling mulai ini (Muhammad SAW) juga dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al Amin—yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba ALLOH yang sempurna) dan terakhir, sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan utusan (rasul) ALLOH, tetapi juga kekasih ALLOH dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, "Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam." (Q.S. Al Anbia [21]:107).
   Ungkapan keagungan ini tidaklah berlebihan karena ALLOH Azza wa Jalla pun memuji beliau, bahkan senantiasa bershalawat kepadanya, firman-Nya, "Sesungguhnya ALLOH dan para malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepadanya." (Q.S. Al Ahzab [33]:56). Demikianlah ALLOH dan para malaikat bershalawat kepadanya, seharusnya apatah lagi kita sebagai makhluk kecil yang tiada berdaya ini.
Disamping bershalawat ternyata penghormatan kepada Rasulullah SAW memiliki etika tersendiri. Tidak cukup hanya bershalawat saja, karena yang terpenting adalah kita harus yakin benar bahwa Rasulullah adalah suri tauladan sepanjang zaman. Jikalau kita ikut dalam tuntunan beliau insya ALLOH akan selamat dunia dan akhirat.
    ALLOH SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul ALLOH itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui ALLOH di hari kemudian dan yang mengingati ALLOH sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali ada contohnya dari Rasulullah.
   Ketika misalnya, rumah tangga keluarga kita berantakan, maka solusi terbaiknya adalah dengan mencontoh Rasul dalam mengemudikan bahtera rumah tangganya. Subhanallah, siapapun yang mampunyai referensi Rasulullah dalam perilaku sehari-harinya, maka hidupnya seperti seorang yang punya katalog yang sangat mudah di akses, segalanya serba tertuntun.
Begitu pentingnya tauladan ini. Itulah sebabnya mengapa P4 gagal di Indonesia? Padahal dimana-mana dilakukan penataran, berbagai metode dan pola digunakan, biaya pun keluar miliaran rupiah, tapi mengapa tidak berhasil merubah pola pikir masyarakat? Jawabannya mudah saja, menurut yang saya pahami dari Dr. Ruslan Abdul Ghani yang menyatakan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak ada contohnya. Siapa sekarang orang Indonesia yang paling Pancasilais sehingga layak ditauladani perilakunya? Belum ada!
Karenanya berbahagialah umat Islam yang mempunyai tauladan Rasulullah SAW, dalam dirinya semua aspek kehidupan telah ada reperensinya. Mau duduk, bertemu dengan kawan, bertemu dengan orang kaya, bercakap dengan orang papa, berhubungan dengan pejabat, semua telah ada contohnya, termasuk bagaimana teknik menghadapi penjahat. Semuanya sudah jelas, bahkan sampai hal yang paling sederhana seperti di kamar kecil yang paling tersembunyi sekalipun, semua ada tuntunannya.
    Sayangnya kita jarang menyempatkan diri untuk mempelajari bagaimana perilaku Rasulullah SAW yang sebenarnya. Karenanya jikalau Pesantren Daarut Tauhiid saat ini dianggap sedang "naik daun", maka sama sekali bukan karena ide cemerlang seseorang, hakikatnya karena pertolongan ALLOH Azza wa Jalla dengan syariat mengamalkan sebagian dari tuntunan Rasulullah SAW yang diaktualisasikan dan dikemas sedemikian rupa. Jadi, apatah lagi bagi orang-orang yang mampu mengaplikasikan semua yang telah Rasul tuntunkan, hasilnya tentu akan jauh lebih luar biasa lagi.
Oleh karena itu, bagi sahabat yang dikaruniai kesempatan menjadi guru dan mengharapkan dicintai dan dihormati muridnya, tidak membosankan murid ketika mengajar dikelas, proses belajar-mengajar menjadi efektif, serta para muridnya menjadi cerdas dan berpikiran maju, maka contohlah Rasul dalam mengajar. Bagaimana cara Rasul mengajar? Ternyata Rasulullah mengajar dengan penuh kelembutan, kasih-sayang, dan sangat ingin para sahabatnya menjadi maju.
Jikalau anda seorang manager perusahaan atau pejabat di sebuah instansi pemerintahan, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar bisa sukses dengan tetap mengikuti tuntunan Rasulullah? Ternyata Rasulullah SAW dalam berorganisasi itu rendah hati, lembut perangainya, senang bertukar pikiran, selalu meminta ide, saran, dan koreksi dalam bermusyawarah.
   Adapun bagi pemuda yang ingin dicintai, disukai, penuh pesona, melimpah kharismanya, maka pelajari bagaimana pribadi Rasul. Para sahabat seperti halnya Imam Ali ternyata juga meneladani Rasulullah SAW. Nampaknya jikalau kita berat menghadapi hidup ini, maka pertanyaannya adalah sampai sejauh mana kita mampu meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW?
Demikian penting arti sebuah tauladan atau penuntun bagi kehidupan seseorang. Karenanya siapapun akan sengsara atau bahkan tersesat jikalau tidak pernah meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW. Dialah penuntun kita dari kesesatan dan gelapnya kehidupan.
Seperti halnya sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kejadiannya adalah dari penuturan seorang mubaligh asal Bandung. Ketika itu ia diundang bertabligh di suatu tempat di Tasikmalaya. Berangkatlah ia naik mobil bersama penjemputnya. Penjemput sebagai penunjuk arah di depan satu mobil dan sang mubaligh mengikuti di belakang dengan mobil lain.
    Beberapa jam perjalanan lancar-lancar saja, sayangnya setelah beberapa saat sampai di wilayah Tasik, penunjuk arah memacu kendaraannya lebih cepat sehingga mobil sang mubaligh tertinggal jauh di belakang. Cerita selanjutnya mudah ditebak, sang mubaligh pun tersesat. Belok kiri tidak ketemu, belok kanan masuk pasar, waktu pun berlalu sia-sia, hatinya bahkan sudah mulai gelisah tidak menentu.
    Nampaklah betapa sengsaranya orang yang tersesat, waktu dan tenaganya terbuang percuma, tujuan tidak menentu, perasaan pun tidak enak, bahkan sebentar-sebentar harus tanya sana-tanya sini, sungguh merepotkan. Demikianlah kegelisahan akan makin akrab dengan orang-orang yang kehilangan penuntun dalam hidupnya.
   Bayangkan saja andaikata kita tidak punya penuntun, tidak punya penunjuk arah, lalu kita berjalan menuju suatu tempat yang belum diketahui sebelumnya, pastilah tidak akan menentramkan perjalanan tersebut. Tapi jikalau penuntun, arah, dan tujuannnya jelas, maka langkah kita akan mantap dan hati pun senantiasa disaputi ketentraman. Dan Rasulullah SAW adalah penuntun dan panutan kita sepanjang zaman.***

Tulisan ini di ambil dari KUMPULAN TAUSYIAH  K.H. Abdullah Gymnastiar

Merah-Putih untuk TdS

Share

     Apa yang dilakukan masyarakat sepanjang rute Tour de Singkarak (TdS) etape Bukittinggi–Harau (50 Kota), sekilas terlihat sederhana. Namun nilainya sangat luar biasa. Sepanjang jalan Bukitinggi–Harau, di kiri-kanan jalan, masyarakat berbaris rapi menyambut dan menyaksikan lomba balap sepeda TdS. Dengan senyum dan wajah antusias mereka menyambut kedatangan ratusan atlet balap sepeda dari 17 negara tersebut.
Mereka juga memberikan semangat dengan bertepuk tangan serta melambai-lambaikan bendera kecil  berwarma Merah-Putih.
Sekilas, aksi dan sambutan masyarakat itu terlihat sederhana saja, namun dampaknya luar biasa.
     Kita tentu sering melihat berbagai pertandingan sepakbola atau pertandingan olahraga lainnya. Telah banyak terbukti bahwa dukungan penonton/suporter itu menentukan kerhasilan pertandingan. Begitu juga dalam pementasan kesenian, sambutan penonton ikut menentukan keberhasilan pertunjukan.

Apa pun bentuknya, sesederhana apa pun wujudnya, inilah sebuah partisipasi dari masyarakat yang patut dihargai dan diacungi jempol.  Apa pun yang akan dilakukan untuk memajukan daerah ini butuh dukungan dan partisipasi masyarakat, termasuk iven TdS. Makin banyak dan makin besar partisipasi masyarakat, bisa dipastikan makin meriah dan makin sukses sebuah iven.

TdS memang sangat butuh dukungan dan partisipasi masyarakat. TdS adalah helat untuk mempromosikan Sumatera Barat ke segala penjuru dunia. Melalui TdS ingin ditunjukkan kepada dunia bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang indah, memiliki panorama alam tropis yang elok, tak ada tandingnya di belahan bumi manapun. Kuliner Minang juga merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Melalui TdS juga ingin diinformasikan bahwa Minangkabau memiliki budaya yang tinggi, masyarakatnya ramah, berbudi bahasa tinggi dan santun.

Pada saat yang sama, tentu juga ingin ditunjukkan kepada dunia bahwa Sumatera Barat memiliki pemerintah yang bersih dan profesional. Juga ingin dibuktikan bahwa Sumatera Barat memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Keberhasilan pelaksanaan TdS adalah bukti dari semua itu. Kepuasan para peserta lomba, kesan positif, kontingen serta tamu lainnya yang datang adalah parameter bahwa Sumbar memiliki SDM yang berkualitas dan berbudaya tinggi.

Lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat? Seperti diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada acara pembukaan TdS,  ”TdS bisa dikatakan berhasil jika telah berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, itulah muara pelaksanaan TdS.

Melalui TdS diharapkan, Sumatera Barat dengan segala potensi dan keunikannya dikenal dan dikenang oleh masyarakat dunia. Iven ini, tentu saja didukung oleh partisipasi, antusiasme dan keramahan masyarakat, diharapkan mampu membangun imej dunia bahwa Sumbar adalah daerah yang cocok untuk dikunjungi, juga berinvestasi.

Meski di sana-sini masih terlihat sejumlah kelemahan, namun kita bertekad kelemahan itu akan terus diperbaiki dan dibenahi. Ke depan, pelaksanaan TdS harus lebih baik dan lebih baik lagi. Jika tahun ini TdS dibuka oleh Menbudpar, tahun depan kita persiapan lebih baik, sehingga bisa dibuka oleh Presiden RI. Jika tahun ini diikuti oleh 17 negara, tahun depan mestinya diikuti oleh lebih banyak negara.

Jika pelaksanaan TdS makin baik dan kesan yang diberikan kepada masyarakat dunia makin baik, insya Allah peluang masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan makin meningkat. Jika kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara ke Sumatera Barat dalam rangka TdS meningkat, tentu peluang ekonomi masyarakat Sumatera Barat meningkat pula. Apalagi, jika diikuti pula oleh adanya investasi.

Selamat mengikuti acara TdS, mari kita tunjukkan bahwa kita bisa berbuat lebih baik. Terima kasih atas partisipasi semua masyarakat serta semua pihak. (*)

(Penulis adalah Irwan Prayitno yang juga Gubernur Sumatera Barat)
Di alihkan dari http://www.padang-today.com/?mod=artikel

Pelajaran Berharga dari Garuda di Dada

Share

                                                     
   Sudahlah! Ya, sudahlah! Kegagalan menjadi juara Piala AFF 2010, sekali pun menyesakkan dada, tak perlu-lah diratapi. Usah ditangisi. Jangan disesali. Tetaplah busungkan, perlihatkan bahwa garuda tetap di dada. Inilah kebanggaan baru kita. Kebanggaan anak bangsa yang selama ini seakan berlayar tak bertepi.
Benar, Firman Utina dkk gagal merengkuh gelar juara. Ya, inilah kegagalan yang masih menghadirkan eforia bahwa anak-anak negeri ini tidak gagal. Timnas masih dipuja dan dipuji telah menghadirkan sebuah sukses yang membuka mata, sebab negeri ini sudah lama tertidur dari hingar-bingar sepakbola.
       Ketika support diberikan kepada Timnas sepakbola Indonesia, sebenarnya saat itu pula cibiran itu ditujukan kepada pembinaan olahraga. Selama ini tak banyak yang tahu dengan proses tim tersebut, tiba-tiba semua orang di negeri ini menginginkan prestasi gemilang. Inilah ironi. Mungkinkah menuai tanpa menanam? Bisakah berbuah tanpa berputik?
Dalam kurun waktu yang sangat panjang, harapan agar prestasi didulang dalam setiap laga, adalah impian banyak orang. Harapan yang didambakan semua masyarakat di republik, namun tak banyak yang bisa dan mau menghargai sebuah proses.
      Selama ini, sebuah proses seakan menjadi kewajiban atlet dan keluarganya. Tidak banyak yang mau peduli dengan kebutuhan yang harus dipenuhi atlet dan keluarganya untuk berprestasi.. Asumsi yang ditonjolkan, pembinaan dan pengembangan olahraga diharapkan datang dari masyarakat, hanya saja, ketika pengembangan itu sudah mulai tumbuh, ternyata justru dipolitisir oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Berbagai pihak pun kemudian masuk ke “arena” dengan mengkedepankan kepedulian. Berbuat sedikit, eksposnya sebukit. Kepedulian yang dihadirkan pun tak lebih dari sekadar menaikkan rating popularitas. Namun hal itu pun sebenarnya tidak masalah, malah ditunggu-tunggu, mudah-mudahan hal serupa terus berlanjut, kita harus berpikir positif, mungkin selama ini beliau-beliau tersebut terlena dengan kesibukannya dan hal-hal lain yang dianggap lebih penting dari olahraga, yang disangkakan hanya menghabis-habiskan uang. Dan ternyata diakui atau tidak olahraga merupakan salah satu alat memecahkan berbagai masalah,yang paling penting yaitu menjadikan seperti yang disampaikan kementator top olahraga, bahwa olahraga ternyata memang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa, Kita semua bangga jadi “Indonesia”. Sampai-sampai kaos berlambang merah putih dan garuda dicari-cari untuk dipakai. Luar Biasa!
      Realita yang terbentang di depan mata, selama ini bibit atlet yang potensial untuk menjadi atlet handal diantaranya sering terbentur dengan berbagai masalah, sehingga mereka membenam jauh-jauh keinginan mereka menjadi atlet apabila dibenturkan dengan sistem pendidikan formal yang belum mendukung pendidikan mereka.
Jika ada yang berprestasi di dunia olahraga, ada kecenderungan mereka gagal di studi. Jika sukses di studi, umumnya mereka tidak memiliki prestasi membanggakan di olahraga. Dunia pendidikan nyaris tak peduli dengan aktivitas olahraga.
       Sudah menjadi rahasia umum jika banyak atlet yang terbentur di studi. Mereka sering tidak memperoleh izin, sering diremehkan, dan tak pernah ada upaya untuk membantu mereka yang tertinggal pelajaran karena mengikuti persiapan dan pelaksanaan kejuaraan.
Sejauh ini, tak pernah ada kesepahaman dari dunia pendidikan terhadap olahraga. Akibatnya, atlet yang masih menjalani pendidikan harus menghadapi “arogansi” guru, terutama guru bidang studi non olahraga. Tak jarang di antara para guru mengancam, kalau terus berolahraga maka nilainya dari mata pelajaran yang diajarkan guru tersebut bisa seperti bola.
        Salahkah para guru? Dari satu sisi, guru tak bisa disalahkan. Mereka mengikuti ketentuan baku tanpa ada pengecualian. Jika itu dilanggar dengan memberikan dispensasi atau semacam perlakuan khusus kepada siswanya, bisa saja mereka dianggap salah. Langkah terbaik, harus ada aturan khusus, sehingga kalau pun sang atlet tidak masuk dalam kurun waktu tertentu, ia tetap bisa mengikuti pendidikan seperti yang lain.
     Di Singapura, misalnya, ada kewajiban guru untuk terus membimbing pelajarnya yang sedang mempersiapkan diri untuk kejuaraan tertentu. Justru guru yang mendatangi atlet ke camp latihannya. Di Amerika, juga tak jauh berbeda. Makanya tak mengherankan, kalau atlet Amerika juga orang-orang yang sukses di bidang studi.
Psikologisnya, tak ada atlet yang bodoh. Atlet adalah orang-orang pintar, memiliki fisik dan konsentrasi yang baik. Mereka harus mengalahkan lawan dengan kemampuan fisik dan berpikirnya. Atlet dipaksa berpikir dan mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Ketika mengiring bola, misalnya. Harus tetap konsentrasi sekali pun di bawah hiruk-pikuk puluhan ribu penonton. Agar bola tetap berada di kakinya sebelum dikirim ke temannya, kekuatan fisiknya sangat menentukan, sebab bisa saja dihadang lawan. Saat mengiring bola, ia juga harus berpikir dan kemudian memutuskan, kepada siapa bola akan diberikan, atau akan menendang langsung ke gawang. Pilihan ini sangat rumit, sebab harus dilakukan dalam kurun waktu yang sangat singkat. Cabang lain memiliki prinsip yang sama, konsentrasi dan membuat keputusan dalam waktu singkat. Jika mereka bodoh, maka tidak akan pernah bisa melakukannya.
       Kalau ternyata banyak atlet yang bermasalah dengan pendidikannya, umumnya hanya terjadi di negeri yang belum mampu mengurus sistem yang mensinergiskan pendidikan bagi olahragawan muda mereka. Di negeri ini, memang ada aktivitas olahraga di sekolah, namun belum mantapnya sistem yang mendukung dalam mempersiapkan siswa menjadi atlet berprestasi. Pembelajaran Pendidikan Jasmani yang merupakan bagian integral dalam pendidikan secara umum, masih termarjinalkan Malah ada iven olahraga yang diurus Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga secara berjenjang dari Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) ditingkat kota dan kabupaten kemudian berlanjut ke tingkat provinsi, lalu berlanjut ke Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas)..
      Dari kenyataan yang terbentang selama ini, yang ada hanya iven berjenjang, sedangkan pembinaan berjenjang dari institusi tersebut nyaris tak pernah ada. Kalau pun ada atlet yang membela kecamatan, kota, kabupaten dan provinsinya ke tingkat Nasional, bukanlah dari pembinaan berjenjang sekolah tersebut.
Fakta sampai saat ini sangat minim pertandingan antar sekolah , yang ada “hanya memakai” atlet yang sudah ada, yang berlatih di klub secara mandiri. Selama iven berlangsung dan selama tenaga atlet itu dibutuhkan demi prestise, selama itu pula atlet dapat dispensasi. Jika iven usai, maka usai pula kepedulian pada mereka. Kalau kemudian atlet mengikuti iven di luar kepentingan institusi tersebut, maka atlet tidak akan pernah mendapatkan dispensasi atau kepedulian seperti sebelumnya. Jarang ada ucapan terimakasih atau penghargaan pada mereka. Rasanya sulit mendapatkan bintang-bintang olahragawan handal, jika minimnya kepedulian kepada bibit-bibit..
     Lantas, mungkinkah menuai tanpa menanam? Bisakah berbuah tanpa berputik? Mumpung masih dibalut eforia hasil positif Timnas sepakbola Indonesia di Piala AFF 2010, tak salah kalau realita ini dijadikan sebagai pelatuk untuk menyadari kekeliruan selama ini. Jangan hanya menuntut hasil tanpa memikirkan proses. Selama ini tuntutan untuk menuai prestasi setinggi-tingginya, namun melupakan proses bagaimana prestasi itu bisa dicapai.
Sudahlah! Ya, sudahlah! Jangan terlalu menuntut prestasi jika tak pernah peduli pada prosesnya.*

*Penulis adalah Syahrial Bakhtiar  (Ketua Umum Koniprov Sumbar juga Dekan FIK UNP)*
Di alihkan dari http://www.padang-today.com/?mod=artikel